Masih teronggok terdiam dia disana diujung perjuangan bumi yang mereka sebut kebanggaan.kusebut dia kepingan intan yang usang tak terjamah dalam ruang tanpa cahaya dan hanya kelam pekat menemani.ia bisu namun ia berkisah tentang cerita rembulan yang selalu merajai malam..dia buta namun dia bersaksi akan setiap tetesan darah yg tertumpah.namun kini sang malam terus merajainya dan semakin ditelan pekat.mengucur bulir-bulir Kristal dari mata-mata asa untuk bertahan dalam belenggu kerapuhan zaman yang mampu membunuhnya dan mati ditangan anak cucu sendiri.bertahan atas lara dan luka penghianatan lintah-lintah kekuasaan.sungguh Tak sedikitpun peduli akan nasib yang sebentar lagi raib termakan hedonism kerakusan mereka. seperti anjing saja yang kelaparan melihat sebongkah daging segar melahapnya habis tak bersisa menjadi lagi dan lagi sebuah hysteria pembodohan dengan kedok pemajuan zaman. Wawww..sungguh menggelikan mendengar itu semua..sungguh sebuah pembunuhan budaya dalam topeng modernisasi.miris meringis melihat ego menjadi setan mengepung dikepala mereka. Masih teringat jelas genangan-genangan kisah kemarin yang diceritakan nenek sebelum aku terlelap.tentang dia menyaksi merahnya api keberanian melawan deru badai-badai yang mampu meluluh lantahkan.tentang dia bukti Jejak-jejak kegigihan bertaruh kaum-kaum pembela demi setitik kemerdekaan yang akhirnya kita kecap sekarang ini. dia menyaksi pengorbanan dan kerelaan. Dia sisa-sisa kenangan untuk sedikit mengingat dan mengisyaratkan api-api semangat yang berkobar kala itu yang mampu mendorong senangat tunas bangsa.Untuk dapat kita ceritakan pada anak cucu kita kelak.namun,,apa lagi yang mampu kita ceritakan tentang kisah-kisah kemarin dalam hancurnya saksi perjuangan..sungguh tragis.
save our somba opu...
tolak pembangunan GDP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar