Laman

Minggu, 24 Juli 2011

perempuan dan luka

 
dia perempuan belantara pekat
ingin menulis selembar senyap yang membuat jatuh cinta
pada setiap pembuat luka tepat dibun-ubun

segelintir sunyi dalam aksara eksotisme malam
dan segenggam sepi dalam ruang-ruang fana yang ia sebut rasa
ingin membacakan kepada dunia tentang sajak-sajak bingkisan penat
hingga membahana memekik disudut pasir berdesir gurun-gurun kosong
terliahat kunang-kunang menelip cahaya dibinar bulan
diantara koma nafas yang semakin memaksa paru-paru memompa lebih kencang
sementara labirin-labirin yang kau sebut kehidupan ikut menghitam
seperti rundungan duka yang terlukis didinding-dinding kamar

dilangit mendung dan sebentar lagi hujan membasuh ngilu
masih dalam senyap yang mencinta nanah dalam tatapan nanarmu
tertitip sejumput bisu yang kutanam dalam otak kanan
terpatri di jantung dan terbenamkan di sudut paling sunyi jiwa
meski tubuh beku dalam dingin malam yg menelan lelah...
 

Jumat, 08 Juli 2011

memori manis

 segelintir kisah saja dari beribu cerita....
kisah kemarin.... didepan masih akan ada beribu kisah..

Taman segitiga di tepian kota Makassar ini. Ingatkah kau tentang tempat ini? Tempat ini menyimpan kisah, beribu kisah tentang kau bulan dan aku matahari. Sore ini aku duduk sendiri sedikit bernostalgia dengan manisnya kisah itu. Di kursi taman ini terurai segudang cerita kau dan aku. Teringat cerita pertemuan kita yang berawal dari sebuah ketidak sengajaan yang merengkuh dua tahun perjalanan panah cinta itu. Padahal kau adalah malam dan aku adalah senja yang tak akan pernah bersatu dalam kehidupan. Saat itu aku menyadari aku bagai pungguk merindukan bulan. Seperti cerita minyak dan air yang tak pernah bisa bersatu dalam sebuah bejana yang kunamai kehidupan. Karena aku menyadari itu semua sebuah kesalahan. Namun kau meyakinkan cinta yang sedikit telah kutanam ditengah rimba ego yang kumiliki. 

Ditaman ini kuberjalan melusuri semua kenangan tetang kasih yang kupaggut denganmu.manis…dalam semua kepura-puraanku sebagai seorang wanita yang menginginkan sebuah kejelasan. Tak pernah kuinginkan sebuah kisah yang menggantung. Begitu lembutnya kau mengusap mawar yang tangkainya habis terbakar. Agar aku tak merasakan perihnya. Kisah ini masih manis dalam kelembutanmu merengkuh dan memelukku. Dipelukanmu kurasakan ketenangan dan kedamaian serta rasa aman akan serigala malam yang senantiasa menerkan kerapuhanku. Memupuk setiap rasa bersalah yang mengakar diotakku dan membara dibola mataku. Berkisah bersamamu mengajarkan banyak hal kepadaku. Tetang cinta,kasih sayang, penghargaan, kesabaran dan bahkan aku mengerti tentang makna duri yang menusuk tepat dibola mataku. Dua tahun ku kecap manisnya cintamu yang ku yakin begitu tulus padaku.

Kuterpaku menatap tugu taman itu. Sejenak aku terhenti dan mengingat memori yang masih sangat tajam tertanam di otakku. Ditempat ini kau menyatakan cintamu berulang kali bahkan tak mampu kuhitung. Dalam mataku yang masih basah akan memori kulihat setitik bayangmu berdiri dihadapanku dan memelukku hangat. Aku merindukanmu !! sebuah kejujuran yang sangat tak ingin kuucapkan kepadamu. Kau melepaskan pelukanmu dan melangkah pergi tanpa berucap sepatah katapun. Kucoba meraihmu namun ternyata kau semu dan menghilang. Terbang bersama kunang-kunang yang menerangimu melebihi aku dia seorang anisa(perempuan). Seketika kau tak dapat kumaknai. Tak kutemukan disampingku dan aku terkulai dalam fanaku.

Ditaman ini akhirnya aku sendiri menerawang rasa yang dua tahun lalu bahkan hingga hari ini tak pernah berubah meski kau tak duduk disampingku lagi. Indah kukenang dalam memori rasaku dan tak ingin kuhapus meski air mata membasah di mata disetiap teringat kisah itu. Cukup kusimpan dalam kotak jingga dalam senja yang kumaknai dirimu. Kutitip rasa ini disisi paling sunyi hatiku. Kutitip kerinduanku ditaman ini jadi ketika kerinduanku membuncah cukup aku menelusuri taman cinta kita.Aku Mengusap genangan-genangan air mata tersisa dikelopak mataku, tersenyum dan bangkit dalam kebahagiaan baru yang akan kurengkuh esok hari. sekali lagi menyusuri taman ini dan aku ingin pulang karena rinduku telah terlampiaskan pada bayangmu disetiap sudut taman ini.

Dan Kenyataannya

Aku masih mengecap asam manis kerinduan yang memerah
Kau masih kubaca dalam igau tidur yang tak nyata
Aku masih memiliki ego yang mungkin masih kuat
Masih kutulis namamu dalam lembar fana
Masih kau memutar memori-memori jingga
Disana dibukit seribu malam masih kudengar longlongan serigala malam
Dan kenyataannya masih kusemai bibit cinta dalam ranah
Meski duri semakin terinjak
Meski Ranting tajam tertnancap di ubun-ubun
Meski duka getir pertautan kau dan senjamu
meski tiada aksara tuk kuselami
aku masih mencintai duka yang tertanam dibola mata
belum mau aku menguburmu dalam telapak tangan
sebab, belum kutemukan cara mencintai tanpa harus memilikimu.





Minggu, 03 Juli 2011

popcorn

dan kenyataannya kau tak pernah sekali pun coba tuk kuhapus
dari setiap lembaran-lembaran kerinduanku
aku menulismu dan membacamu
berulang kali kulakukan dihadapan khalayak malam
selalu kau yang betebaran di imaji menjadi ide dan cinta
meskipun elegi-elegi itu semakin membasuh sebongkah hati
kutulis...terus kutulis... seperti mati rasa akan lelah
dan kenyataannya aku merindukanmu.....