dia perempuan belantara pekat
ingin menulis selembar senyap yang membuat jatuh cinta
pada setiap pembuat luka tepat dibun-ubun
segelintir sunyi dalam aksara eksotisme malam
dan segenggam sepi dalam ruang-ruang fana yang ia sebut rasa
ingin membacakan kepada dunia tentang sajak-sajak bingkisan penat
hingga membahana memekik disudut pasir berdesir gurun-gurun kosong
terliahat kunang-kunang menelip cahaya dibinar bulan
diantara koma nafas yang semakin memaksa paru-paru memompa lebih kencang
sementara labirin-labirin yang kau sebut kehidupan ikut menghitam
seperti rundungan duka yang terlukis didinding-dinding kamar
dilangit mendung dan sebentar lagi hujan membasuh ngilu
masih dalam senyap yang mencinta nanah dalam tatapan nanarmu
tertitip sejumput bisu yang kutanam dalam otak kanan
terpatri di jantung dan terbenamkan di sudut paling sunyi jiwa
meski tubuh beku dalam dingin malam yg menelan lelah...
ingin menulis selembar senyap yang membuat jatuh cinta
pada setiap pembuat luka tepat dibun-ubun
segelintir sunyi dalam aksara eksotisme malam
dan segenggam sepi dalam ruang-ruang fana yang ia sebut rasa
ingin membacakan kepada dunia tentang sajak-sajak bingkisan penat
hingga membahana memekik disudut pasir berdesir gurun-gurun kosong
terliahat kunang-kunang menelip cahaya dibinar bulan
diantara koma nafas yang semakin memaksa paru-paru memompa lebih kencang
sementara labirin-labirin yang kau sebut kehidupan ikut menghitam
seperti rundungan duka yang terlukis didinding-dinding kamar
dilangit mendung dan sebentar lagi hujan membasuh ngilu
masih dalam senyap yang mencinta nanah dalam tatapan nanarmu
tertitip sejumput bisu yang kutanam dalam otak kanan
terpatri di jantung dan terbenamkan di sudut paling sunyi jiwa
meski tubuh beku dalam dingin malam yg menelan lelah...