aku tercekik rasa ingin yang kuat terhadapmu
ingin menjadi seorang yang mampu meramu kata demi kata dalam sajak ilalang
tanpa aku lelah tuk berfikir karena bukan itu akarnya
bukan fikiran yang menopang dengan kokoh
namun imaji yang liar meracau
melayang dan terbang dalam imaji
sampai aku mampu menulismu menjadi bait demi bait sajak sang penyair
dalam isyarat yang kubaca tentang wajahmu dalam kertas
meskipun ia si sepi kadang duduk disampingku merangkul tepian bahuku
tapi kekuatan itu tetap meranggas di ubun-ubunku menelusup masuk dipori-pori
dan masih kutempatkan kau tepat disebelah jantungku
sampai benar-benar aku mampu menciptakan sajak kau dan aku.
Senin, 15 Agustus 2011
Ditusuk rindu
Ahhh, apa yang dicari oleh sesosok wajah dalam cermin?
mungkin dibaliknya ada orang lain atau dia dirasuki setan dari bukit tengkorak
dimatanya pun kulihat kunang-kunang berculah
seperti akan mencengkram seonggok daging segar dihadapannya
ditangannya sudah mengepal badik warisan leluhur yang siap ditancapkan tepat di ujung rasa yang masih entah ia tau
kutelaah...
ohh ternyata ia dililit kerinduan,
manisnya mengecap rindu yang membuncah..
Teh cinta
kutulis dan kubaca matamu yang kumaknai embun
sebentar lagi pagi akan meranggas di ufuk malam
kutitipkan sejumput doa pada dingin menelusup ke iga
jikalau pagi ada cahaya matahari akan kubuatkan secangkir bahagia.
sebentar lagi pagi akan meranggas di ufuk malam
kutitipkan sejumput doa pada dingin menelusup ke iga
jikalau pagi ada cahaya matahari akan kubuatkan secangkir bahagia.
aduhai peluhmu
sejak kau menjadi amarah kusuguhkan secangkir teh hangat pelepas peluhmu
sedikit harap-harap cemas kau akan suka dengan manisnya yang menururtku pas
dan kutawarkan kau menetap di ruang kosong sebelah jantungku
mengisi setiap sisi dan ku padamkan amarahmu dengan segurat senyum.
Sebab aku tak mau keriput menghiasi wajahmu terlalu dini.
Minggu, 07 Agustus 2011
menopang hujan
kulihat pelangi tak berwarna tepat dibola mata
bias kunang-kunang pun hanya menilip sejumput pilu
di ujung senja masih ada senyumku menopang fana
kutawarkan pada setiap aksara yang akan kau lalui
ada sebuah labirin berujung entah dengan seribu tikungan tajam.
sedikit saja lengah maka kematianmu mejadi duri
aku punya kisah romantis di tepi cakrawala terbit di ufuk peluhmu
kutawarkan pada setiap pahit yang kau kecap
ada gadis kecil bertopeng riuh berdecakan menari sedendang angin
tapi di belakang kedai ada bocah dalam koma meringkuk sesekali memekik
dimatanya melengkung genangan hujan
di dadanya kosong melompong seperti kepompong tak berisi
lagi-lagi aku punya segudang bibit tawa untuk kausemai ditanah gersang
aku di sepenggal malam mengajakmu meramu ramuan khas malam
secangkir jahe hangat dan sepotong roti lembut kusajikan dengan sejuta harap
kau teguk dan kau kunyah bersama lara yang mengakar ditenggorokan.
aku di seperdua malam menarik benang merah antara matamu dan mataku
dititik-titik embun pagi yang sebentar lagi kubuatkan mentari...
bismillah...
bias kunang-kunang pun hanya menilip sejumput pilu
di ujung senja masih ada senyumku menopang fana
kutawarkan pada setiap aksara yang akan kau lalui
ada sebuah labirin berujung entah dengan seribu tikungan tajam.
sedikit saja lengah maka kematianmu mejadi duri
aku punya kisah romantis di tepi cakrawala terbit di ufuk peluhmu
kutawarkan pada setiap pahit yang kau kecap
ada gadis kecil bertopeng riuh berdecakan menari sedendang angin
tapi di belakang kedai ada bocah dalam koma meringkuk sesekali memekik
dimatanya melengkung genangan hujan
di dadanya kosong melompong seperti kepompong tak berisi
lagi-lagi aku punya segudang bibit tawa untuk kausemai ditanah gersang
aku di sepenggal malam mengajakmu meramu ramuan khas malam
secangkir jahe hangat dan sepotong roti lembut kusajikan dengan sejuta harap
kau teguk dan kau kunyah bersama lara yang mengakar ditenggorokan.
aku di seperdua malam menarik benang merah antara matamu dan mataku
dititik-titik embun pagi yang sebentar lagi kubuatkan mentari...
bismillah...
Langganan:
Postingan (Atom)