Laman

Minggu, 07 Agustus 2011

menopang hujan

 kulihat pelangi tak berwarna tepat dibola mata
bias kunang-kunang pun hanya menilip sejumput pilu
di ujung senja masih ada senyumku menopang fana
kutawarkan pada setiap aksara yang akan kau lalui

ada sebuah labirin berujung entah dengan seribu tikungan tajam.
sedikit saja lengah maka kematianmu mejadi duri
aku punya kisah romantis di tepi cakrawala terbit di ufuk peluhmu 
kutawarkan pada setiap pahit yang kau kecap

ada gadis kecil bertopeng riuh berdecakan menari sedendang angin
tapi di belakang kedai ada bocah dalam koma meringkuk sesekali memekik
dimatanya melengkung genangan hujan
di dadanya kosong melompong seperti kepompong tak berisi
lagi-lagi aku punya segudang bibit tawa untuk kausemai ditanah gersang

aku di sepenggal malam mengajakmu meramu ramuan khas malam
secangkir jahe  hangat dan sepotong roti  lembut kusajikan dengan sejuta harap
kau teguk dan kau kunyah bersama lara yang mengakar ditenggorokan.

aku di seperdua malam menarik benang merah antara matamu dan mataku
dititik-titik embun pagi yang sebentar lagi kubuatkan mentari...

bismillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar