Laman

Selasa, 29 November 2011

sang pembuat Luka...

Kekasih...
Taukah kau rasanya tidur dipembaringan beku ini dengan denyut nadi kian melemah
Taukah kau rasanya bernafas tanpa cukupnya udara untuk kau hirup, sesak....
Taukah kau rasanya namamu ada dalam daftar koma disetiap sisi rumah sakit
Taukah kau rasanya diikuti izrail disetiap kau membuka mata
kurasa kau tak tau apa-apa sampai jantungku berhenti berdetak diujung belati yang kau hunus...

Senin, 21 November 2011

Di pelukan Sepi

Dan kemudian kusadari telah terbentang jarak antara kita
Benang merah yang kusemat di kornea matamu telah terputus
Mungkin aku terlalu lelap disudut kamarku
Sampai tak kusadari jejakmu terhapus detik-detik kematian rasa
Seperti Detak jantung kian melemah pada waktu yang terhenti
Kau terlalu jauh Bahkan samar wajahmu di seberang lautan sana
Kemana lagi arahmu harus kutuju
Kompas ini Seperti berputar tak tentu arah tak mampu kubaca
Sepi ini semeriah pestaphoria kemenangan kejuaraan kerajaan romawi
Tak kuharap kau pulang meski aku masih dijendela yang sama
Sebab telah kunalarkan di sini pun kau tiada
Pergi mu kerinduanku
Setidaknya…
Pamitlah…
agar kubuktikan pada fikiran
bahwa kau pernah di sampingku pada setiap langkahan kaki
agar kudapati dirimu meski hanya bayangan di otak kanan
pergilah pada tujuanmu meski bukan senjaku yang kau tuju
biarlah waktu menapaki setiap luka
sudah biasa kurasakan…bahkan jiwa telah beku untuk sajak-sajak peluh
sebab nalarku telah mampu membujuk jiwaku untuk lebih tenang
meski sepi terlalu bising..
disudut malam
dalam detik menutup 21 ku…
Sartika Fathir Rahman…

20 tahun dan 21 november

tik..tok..tik..tok..
detik itu akhirnya menyergap pada malam yg tak biasa
detak jantungku kian melemah dari pacuan sebelumnya
20 angka fantastis untuk malam seksi ini
aku tau perjanjian antara aku dan tuhan telah aku genggam sejak 20 tahun silam
sebelum ruh tertiup dalam mungilnya masa janin ibunda
ada setangkup harap cemas menggelayut di jendela kamar
mungkinkah esok lebih dari hari kemarin
atau esok hanya akan jadi hari biasa saja
ow...aku ingat kemarin kugantungkan asa di sisi pembaringan
mungkin bisa kurefleksikan untuk esok
semoga doa kali ini tak raib
untuk kubuat bingkai pelangi setelah tetesan hujan sore tadi
kemarin kuminta gurun untuk mata
kali ini kuminta senja duduk di sampingku bersama racikan tawa
kalau tak ku dapatkan bukan apa-apa aku tetap menyungging senyum...


21 november 1991-2011
tik..tok..tik..tok.. waktu masih menungguku....

Minggu, 20 November 2011

Hanya butuh ruang sepi

Sangat jelas aku tau bahwa aku tidak penting dan tak perlu untuk dijadikan sesuatu yg penting bagi kalian..
Aku hanya seonggok tanah tandus di suduT taman bunga
Untuk kaktus pun tak mampu tumbuh berSamaku..

Cukup aku ketahui aku hanya sebuah benalu meranggas untuk pohon akasia itu..
Untuk brtahan sndiri pun aku tak mampu ..

Aku hanya tidak mampu mengatakan aku cukup kuat menahan duri yg kalian tancapkan tepat diubun-ubunku..

Sabtu, 19 November 2011

sudut mata

tatkala lafaz itu menggema aku telah sampai diujung malam
suara semakin parau dalam surau tak bergurau
titik embun semakin basah bersama jingga sebentar lg merona
belum juga kusandarkan lelap dipembaringan lelah
aku hanya saja masih pada kepedihan yg meracau
di bilik jantung memacu terlalu cepat
pada mata yg masih melengkungkan hujan
pagi sebentar lagi mungkin sedikit kupaksa lelap ini
semoga esok mataku menjadi tandus layaknya gurun

sampai diujung duka

ketika kayu menjadi abu termakan api yang tak menyampaikan makna
kau menemui panas dalam sauhmu kepada bara
berkobar dalam eraumu sepi mengecup tidur
lahan itu kian meracau galau tak bergambut
mungkin rindu itu kian menelisik ke celah-celah otakmu
atau luka semakin menggasak di setiap sisi jantung
ataukah amuk wanita meronta lepas dari jeruji pasungan
semoga...
agar tak sampai menjadi bangkai dipembaringan
hanya perlu keluar dari kota penuh carut marut
lepas dari beku-beku angkara
lebih menyelami makna diri untuk diri,mereka dan dunia
sampai diujung duka..

Senin, 15 Agustus 2011

sajak ilalang

aku tercekik rasa ingin yang kuat terhadapmu
ingin menjadi seorang yang mampu meramu kata demi kata dalam sajak ilalang
tanpa aku lelah tuk berfikir karena bukan itu akarnya
bukan fikiran yang menopang dengan kokoh
namun imaji yang liar meracau
melayang dan terbang dalam imaji
sampai aku mampu menulismu menjadi bait demi bait sajak sang penyair
dalam isyarat yang kubaca tentang wajahmu dalam kertas
meskipun ia si sepi kadang duduk disampingku merangkul tepian bahuku
tapi kekuatan itu tetap meranggas di ubun-ubunku menelusup masuk dipori-pori
dan masih kutempatkan kau tepat disebelah jantungku
sampai benar-benar aku mampu menciptakan sajak kau dan aku.

Ditusuk rindu

Ahhh, apa yang dicari oleh sesosok wajah dalam cermin?
mungkin dibaliknya ada orang lain atau dia dirasuki setan dari bukit tengkorak
 
dimatanya pun kulihat kunang-kunang berculah
 
seperti akan mencengkram seonggok daging segar dihadapannya
 
ditangannya sudah mengepal badik warisan leluhur yang siap ditancapkan tepat di ujung rasa yang masih entah ia tau
 
kutelaah...
 
ohh ternyata ia dililit kerinduan,
manisnya mengecap rindu yang membuncah..

Teh cinta


kutulis dan kubaca matamu yang kumaknai embun
sebentar lagi pagi akan meranggas di ufuk malam
kutitipkan sejumput doa pada dingin menelusup ke iga
jikalau pagi ada cahaya matahari akan kubuatkan secangkir bahagia.

aduhai peluhmu

sejak kau menjadi amarah kusuguhkan secangkir teh hangat pelepas peluhmu
sedikit harap-harap cemas kau akan suka dengan manisnya yang menururtku pas
dan kutawarkan kau menetap di ruang kosong sebelah jantungku
mengisi setiap sisi dan ku padamkan amarahmu dengan segurat senyum.
Sebab aku tak mau keriput menghiasi wajahmu terlalu dini.

Minggu, 07 Agustus 2011

menopang hujan

 kulihat pelangi tak berwarna tepat dibola mata
bias kunang-kunang pun hanya menilip sejumput pilu
di ujung senja masih ada senyumku menopang fana
kutawarkan pada setiap aksara yang akan kau lalui

ada sebuah labirin berujung entah dengan seribu tikungan tajam.
sedikit saja lengah maka kematianmu mejadi duri
aku punya kisah romantis di tepi cakrawala terbit di ufuk peluhmu 
kutawarkan pada setiap pahit yang kau kecap

ada gadis kecil bertopeng riuh berdecakan menari sedendang angin
tapi di belakang kedai ada bocah dalam koma meringkuk sesekali memekik
dimatanya melengkung genangan hujan
di dadanya kosong melompong seperti kepompong tak berisi
lagi-lagi aku punya segudang bibit tawa untuk kausemai ditanah gersang

aku di sepenggal malam mengajakmu meramu ramuan khas malam
secangkir jahe  hangat dan sepotong roti  lembut kusajikan dengan sejuta harap
kau teguk dan kau kunyah bersama lara yang mengakar ditenggorokan.

aku di seperdua malam menarik benang merah antara matamu dan mataku
dititik-titik embun pagi yang sebentar lagi kubuatkan mentari...

bismillah...

Minggu, 24 Juli 2011

perempuan dan luka

 
dia perempuan belantara pekat
ingin menulis selembar senyap yang membuat jatuh cinta
pada setiap pembuat luka tepat dibun-ubun

segelintir sunyi dalam aksara eksotisme malam
dan segenggam sepi dalam ruang-ruang fana yang ia sebut rasa
ingin membacakan kepada dunia tentang sajak-sajak bingkisan penat
hingga membahana memekik disudut pasir berdesir gurun-gurun kosong
terliahat kunang-kunang menelip cahaya dibinar bulan
diantara koma nafas yang semakin memaksa paru-paru memompa lebih kencang
sementara labirin-labirin yang kau sebut kehidupan ikut menghitam
seperti rundungan duka yang terlukis didinding-dinding kamar

dilangit mendung dan sebentar lagi hujan membasuh ngilu
masih dalam senyap yang mencinta nanah dalam tatapan nanarmu
tertitip sejumput bisu yang kutanam dalam otak kanan
terpatri di jantung dan terbenamkan di sudut paling sunyi jiwa
meski tubuh beku dalam dingin malam yg menelan lelah...
 

Jumat, 08 Juli 2011

memori manis

 segelintir kisah saja dari beribu cerita....
kisah kemarin.... didepan masih akan ada beribu kisah..

Taman segitiga di tepian kota Makassar ini. Ingatkah kau tentang tempat ini? Tempat ini menyimpan kisah, beribu kisah tentang kau bulan dan aku matahari. Sore ini aku duduk sendiri sedikit bernostalgia dengan manisnya kisah itu. Di kursi taman ini terurai segudang cerita kau dan aku. Teringat cerita pertemuan kita yang berawal dari sebuah ketidak sengajaan yang merengkuh dua tahun perjalanan panah cinta itu. Padahal kau adalah malam dan aku adalah senja yang tak akan pernah bersatu dalam kehidupan. Saat itu aku menyadari aku bagai pungguk merindukan bulan. Seperti cerita minyak dan air yang tak pernah bisa bersatu dalam sebuah bejana yang kunamai kehidupan. Karena aku menyadari itu semua sebuah kesalahan. Namun kau meyakinkan cinta yang sedikit telah kutanam ditengah rimba ego yang kumiliki. 

Ditaman ini kuberjalan melusuri semua kenangan tetang kasih yang kupaggut denganmu.manis…dalam semua kepura-puraanku sebagai seorang wanita yang menginginkan sebuah kejelasan. Tak pernah kuinginkan sebuah kisah yang menggantung. Begitu lembutnya kau mengusap mawar yang tangkainya habis terbakar. Agar aku tak merasakan perihnya. Kisah ini masih manis dalam kelembutanmu merengkuh dan memelukku. Dipelukanmu kurasakan ketenangan dan kedamaian serta rasa aman akan serigala malam yang senantiasa menerkan kerapuhanku. Memupuk setiap rasa bersalah yang mengakar diotakku dan membara dibola mataku. Berkisah bersamamu mengajarkan banyak hal kepadaku. Tetang cinta,kasih sayang, penghargaan, kesabaran dan bahkan aku mengerti tentang makna duri yang menusuk tepat dibola mataku. Dua tahun ku kecap manisnya cintamu yang ku yakin begitu tulus padaku.

Kuterpaku menatap tugu taman itu. Sejenak aku terhenti dan mengingat memori yang masih sangat tajam tertanam di otakku. Ditempat ini kau menyatakan cintamu berulang kali bahkan tak mampu kuhitung. Dalam mataku yang masih basah akan memori kulihat setitik bayangmu berdiri dihadapanku dan memelukku hangat. Aku merindukanmu !! sebuah kejujuran yang sangat tak ingin kuucapkan kepadamu. Kau melepaskan pelukanmu dan melangkah pergi tanpa berucap sepatah katapun. Kucoba meraihmu namun ternyata kau semu dan menghilang. Terbang bersama kunang-kunang yang menerangimu melebihi aku dia seorang anisa(perempuan). Seketika kau tak dapat kumaknai. Tak kutemukan disampingku dan aku terkulai dalam fanaku.

Ditaman ini akhirnya aku sendiri menerawang rasa yang dua tahun lalu bahkan hingga hari ini tak pernah berubah meski kau tak duduk disampingku lagi. Indah kukenang dalam memori rasaku dan tak ingin kuhapus meski air mata membasah di mata disetiap teringat kisah itu. Cukup kusimpan dalam kotak jingga dalam senja yang kumaknai dirimu. Kutitip rasa ini disisi paling sunyi hatiku. Kutitip kerinduanku ditaman ini jadi ketika kerinduanku membuncah cukup aku menelusuri taman cinta kita.Aku Mengusap genangan-genangan air mata tersisa dikelopak mataku, tersenyum dan bangkit dalam kebahagiaan baru yang akan kurengkuh esok hari. sekali lagi menyusuri taman ini dan aku ingin pulang karena rinduku telah terlampiaskan pada bayangmu disetiap sudut taman ini.

Dan Kenyataannya

Aku masih mengecap asam manis kerinduan yang memerah
Kau masih kubaca dalam igau tidur yang tak nyata
Aku masih memiliki ego yang mungkin masih kuat
Masih kutulis namamu dalam lembar fana
Masih kau memutar memori-memori jingga
Disana dibukit seribu malam masih kudengar longlongan serigala malam
Dan kenyataannya masih kusemai bibit cinta dalam ranah
Meski duri semakin terinjak
Meski Ranting tajam tertnancap di ubun-ubun
Meski duka getir pertautan kau dan senjamu
meski tiada aksara tuk kuselami
aku masih mencintai duka yang tertanam dibola mata
belum mau aku menguburmu dalam telapak tangan
sebab, belum kutemukan cara mencintai tanpa harus memilikimu.